Hubungan Pendidikan dan Agama
Agama menyiapkan norma
hidup yang komprehensif yang melandasi tujuan pendidikan. Norma ini bersifat
stabil karena berpangkal pada norma absolut, berasal dari Allah Swt. yang
secara berangsur disadari manusia dalam lingkup waktu dan tempat (Ashraf, dalam
Al-Attas 1978:xii). Agamalah yang menyiapkan dan melahirkan tujuan pendidikan
yang sangat bermakna, sebab tujuann tersebut diwahyukan kepada Rasul yang
berpangkal pada tujuan diciptakannya manusia.
Pendidikan sangat erat
kaitannya dengan Agama. Bahkan Agama merupakan landasan terpenting bagi
pendidikan. Ilmu pendidikan berlandaskan agama mengandung makna bahwa agama itu
menjadi sumber inspirasi untuk menyusun ilmu untuk menyusun ilmu atau
konsep-konsep pendidikan dan melaksanakan pendidikan. Teori pendidikan Islam
berangkat dari al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga ayat-ayat al-Qur’an dan sunnah
Rasul itu dijadikan landasan dalam keseluruhan sistem pendidikan.
Makna dan Tujuan
Pendidikan
Agama memberikan
landasan pemikiran berkenaan dengan manusia, siapa dirinya, dari mana asalnya,
mau kemana dirinya, dan apa yang seyogianya diperbuat manusia dalam kehidupan
di dunia ini. Atas landasan itu para pakar pendidikan dapat menyusun dasar dan
tujuan pendidikan yang utuh, konprehensif dan mendalam. Rumusan tujuan itu
dijabarkan menjadi tujuan yang lebih khusus lagi dan dapat memilih materi yang
lebih cocok dengan tujuan itu. Kontribusi dalam temuan berbagai ilmu,
psokologi, sosiologi, sains dan ilmu lain dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya
dalam upaya mencapai tujuan pendidikan itu.
Agama mengatur seluruh
aspek kehidupan pemeluknya sebagai individu, anggota masyarakat serta
lingkungannya. Agama merupakan penghambaan manusia terhadap Tuhannya. Agama
bersifat dogmatis, otoriter serta imperatif sehingga setiap pemeluknya harus
mentaati aturan, nilai serta norma yang ada di dalammnya.
Aturan-aturan tersebut
bersifat mengikat dan berfungsi sebagai pedoman bagi pemeluknya untuk mencapai
kebahagian yang diidamkannya. Bila aturan tersebut dilanggar maka dampaknya
bukan hanya pada individual saja tetapi juga lingkungan sekitar.
Agama dalam
konsep-konsep di atas bersifat universal dan sederhana. Konsep-konsep tersebut
diharapkan dapat dikenakan kepada semua agama yang dikenal selama ini. Bila
konsep-konsep tersebut dipaksakan sama untuk semua agama, maka konsekuensi yang
diterima adalah adanya pluralisme agama. Padahal tidak semua agama menyepakati
adanya pluralisme.
Bila berbicara tentang
agama maka tidak akan pernah lepas dari pendidikan. Agama selalu bersifat
pendidikan karena di dalamnya ada transfer ilmu dan pengetahuan yang bersifat
dogmatis. Lain halnya bila berbicara tentang pendidikan maka tidak selalu
berkaitan dengan agama. Namun dalam proses pendidikan maka pendidikan harus
sejalan dengan agama dan saling melengkapi sehingga output yang dihasilkan oleh
pendidikan bersifat syamil/menyeluruh/paripurna. Hal ini sesuai dengan Visi
Kementrian Pendidikan Nasional tahun 2025 yaitu menghasilkan insan Indonesia
Cerdas dan Kompetitif (insan kamil/insan paripurna). Yang dimaksud dengan insan
Indonesia Cerdas adalah cerdas komprehensif yaitu cerdas spiritual, cerdas
emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual dan cerdas kinestetis.
Pembentukan manusia
yang Cerdas dan Kompetitif tidak semata dilakukan hanya dengan transfer ilmu
dan pengetahuan saja tetapi juga penanaman nilai-nilai moral yang sesuai dengan
nilai dan norma yang terdapat di dalam agama. Hal ini dilakukan agar output
pendidikan yang dihasilkan tidak hanya cerdas secara ilmu dan pengetahuan
tetapi juga memiliki akhlak dan moral yang baik. Akhlak dan moral inilah yang
menjadi penyeimbang dan penggerak output pendidikan sehingga tidak lepas
control dan tidak menjadi sombong dengan hasil yang dicapainya. “Science
without religion is blind, and religion without science is lame”. (Albert
Einstein)
Pendidikan Berbasis
Agama; Membangun Moral/Etik Peserta Ddidik
Seperti yang telah
dijabarkan di atas bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia berkualitas
secara lahiriyah dan bathiniyah. Secara lahiriyah pendidikan menjadikan manusia
bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, serta dapat menentukan arah hidupnya ke
depan. Sedangkan secara bathiniyah pendidikan diharapkan dapat membentuk
jiwa-jiwa berbudi, tahu tata krama, sopan santun dan etika dalam setiap gerak
hidupnya baik personal maupun kolektif. Hal ini mengandung arti bahwa
pendidikan akan membawa perubahan pada setiap orang sesuai dengan tata aturan.
Selain itu agama juga
mempunyai peran penting dalam dunia pendidikan, banyak ayat-ayat kauniyah yang
menganjurkan umatnya untuk selalu belajar kapanpun dan dimanapun, atau dengan
istilah long life education sebagai motivasi agama untuk dunia pendidikan.
Misalnya wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw. adalah tentang
pendidikan, yaitu bagaimana kita membaca perkembangan diri sendiri, orang lain
bahkan dunia dengan pengetahuan yang berorientasi agama (ketuhanan). Oleh sebab
itu pendidikan agama (Islam) akan memberi “imunisasi” pada jiwa seseorang untuk
selalu berada dalam jalan yang benar sesuai dengan ajaran agama itu sendiri,
yang selalu mengajarkan kebenaran hakiki pada setiap aktifitas pemeluknya.
Pendidikan agama pada
dunia pendidikan merupakan modal dasar bagi anak untuk mendapatkan nilai-nilai
ketuhanan, karena dalam pendidikan agama (Islam) diberikan ajaran tentang
muamalah, ibadah dan syari’ah yang merupakan dasar ajaran agama. Hal inilah
yang menjadikan pendidikan agama sebagai titik awal perkembangan nilai-nilai
agama pada anak.
Sebagai contoh, Allah
Swt. menganjurkan umatnya untuk bershadaqah, dengan shadaqah anak didik
diharapkan peduli dengan masyarakat sekitar yang membutuhkan uluran
tangah/bantuan. Shadaqah ini mengajarkan nilai-nilai sosial (muamalah)
dalam berinteraksi di masyarakat. Dengan shadaqah seorang anak didik akan
merasakan bahwa “saling membutuhkan” pada setiap orang adalah ciri dari
kehidupan. Ini merupakan contoh kecil dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Dari contoh di atas
mengajarkan “simbiosis mutualisme” dalam kehidupan yang menjadikan suatu
bukti bahwa betapa pentingnya nilai-nilai agama diajarkan kepada anak, dimana
dalam dunia pendidikan dicakup dalam satu bidang garapan yaitu pendidikan agama.
Pendidikan agama dalam kehidupan tidaklah sepenuhnya menjadi tanggung jawab
guru di sekolah, melainkan juga orang tua sebagai contoh nyata dalam kehidupan
anak. Bagaimana mungkin anak akan menjadi baik, jika orang tuanya hidup dalam
ketidakbaikan. Oleh karena itu pendidikan agama harus ditanamkan kepada anak
dimanapun ia berada, baik formal maupun non formal.
Secara teoritis
seharusnya pendidikan agama dapat membentuk kepribadian anak, hal ini sesuai
dengan tujuan pendidikan agama yang endingnya iman dan taqwa kepada Allah Swt.
Jika seseorang sudah beriman dan bertaqwa dengan sebenar-benarnya, maka segala
perbuatannya akan mencerminkan nilai-nilai agama, menjalankan segala yang
diperintah dan meninggalkan semua yang dilarang. Seiring dengan itu maka moral/etika
pun akan tercermin di dalamnya. Bagaimana mungkin seseorang yang beriman dan
bertaqwa misalnya, menggunakan narkoba atau hal-hal lain yang dilarang agama.
Hal ini menjadi bukti bahwa jika seorang anak telah tertanam dalam dirinya
nilai-nilai agama yang kuat, maka sudah dapat dipastikan moral/etika pada orang
tersebut akan terbentuk dengan sendirinya, mengikuti irama iman dan kualitas
taqwa yang ada padanya.
Mantap Kang, terimakasih atas penjelasannya tentang hubungannya pendidikan dengan agama.
BalasHapusPas Kebetulan saya ada materi kuliah yang membahas topik yang berhubungan.